Renungan Minggu Ini

SENIN, 31 DESEMBER 2012 [SBU]

27.11.2012

MENUJU DUNIA BARU [Malam Akhir Tahun] Wahyu 21 : 9 – 27 Langit dan bumi yang ada sekarang ini akan

Renungan Ibadah Pelkat PKB - Jumat, 13 April 2012

MAKNA PASKAH

oleh: Pnt. F. H. Dadoali

Bacaan Alkitab: Matius 28 : 9 - 10, 16 - 19

Riwayat hidup Tuhan Yesus tidak berakhir pada saat kematian-Nya. Hari Jumat Agung disusul Hari Paskah : pada hari yg ke-3 Ia bangkit dari antara org mati!

Ketika itu begitu nyata, bahwa kematian Kristus menjadi kemenangan atas dosa, maut dan iblis. Dan oleh kebangkitan-Nya, dinyatakanlah, bahwa Yesus itu Kristus, Anak Allah dan Tuhan (Rm.1:4). Bahkan harapan kita tentang masa depan semata-mata berdasar pada kebangkitan-Nya (2Kor.1:9).

Menurut kesaksian Alkitab, Yesus tidak dibangkitkan dari kematian semu. Ia benar-benar telah mati. Dan Dia yang bangkit itu bukannya suatu roh, tetapi dapat dilihat sebagai manusia yang memiliki tubuh.

Maka tak diragukan lagi bahwa Ia telah menderita, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut, pada hari ke-tiga bangkit.

Sebagai umat-Nya, hendaknya kita mengarahkan perhatian kepada soal praktis, yaitu : Apakah faedah kebangkitan Kristus untuk kita?

Saudara, dari bacaan Alkitab hari ini, ada 3 hal yang segera segera Yesus lakukan setelah kebangkitan-Nya, yaitu Pertama, Ia mengumpulkan murid-murid-Nya, kedua Ia menjumpai murid-murid-Nya di Galilea dan yang ketiga Ia menutus mereka keseluruh dunia. Nampaknya itulah makna kebangkitan-Nya, makna Paskah : berkumpul, ke Galilea, dan keseluruh dunia. Yang kalau kita artikan lebih jauh lagi, ketiga tindakan Yesus tersebut bisa di maknai sebagai : bersekutu, melayani dan bersaksi.

Coba kita telaah lebih jauh maknanya satu persatu.

1. Paskah berarti berkumpul kembali.

Saudara, Yesus itu bukan hanya Tuhan pribadi, bukan hanya Juruslamat pribadi, yang bekerja secara pribadi dan hanya untuk pribadi. Permulaan pekerjaan-Nya ditandai dengan pemanggilan ke-12 murid-Nya. Dan sejak itu Ia bekerja bersama-sama dengan mereka, mereka bekerja sebagai satu kesatuan.

Setelah Ia mati, murid-murid tercerai-berai, mereka tidak bersatu lagi, laiknya domba ketika gembalanya dipalu orang. Masing-masing mencari selamat sendiri-sendiri. Masing-masing kembali ke kesibukannya dan pekerjaannya pribadi.

Lalu Paskah, Yesus bangkit!  Apakah firmanNya yang pertama? Matius menulis : “Jangan takut! Pergi dan katakan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku supaya mereka pergi ke Galilea, dan disanalah mereka akan melihat Aku”(ay.10).

Yesus bertindak seperti gembala yang mengumpulkan domba-dombaNya.

Setelah Paskah, pekerjaan dan misi Kristus harus dilanjutkan. Para murid harus melanjutkan sebagai suatu kesatuan, sebagai persekutuan. Tidak sendiri- sendiri, tetapi bersama-sama.

Tidakkah justru pola kebersamaan dalam persekutuan ini yang banyak dilupakan dalam kehidupan kita bergereja sekarang ini? Tidakkah benar bahwa pola kita bergereja adalah pola pribadi, dan bukan pola persekutuan? Lihat saja, masih banyak diantara kita yang kalau pergi beribadah ke gereja, maka ibadahnya itu dianggap sebagai ibadah pribadi, antara dia dengan Tuhan, selesai ibadah, ya sudah pulang. Ia tidak terlalu mengacuhkan, bahwa kedatangannya juga untuk menyatakan persekutuannya saudara-saudaranya yang seiman yang lain, dan berkumpul bersama-sama dalam kesatuan ibadah.

Setelah Paskah, Yesus menghendaki adanya persekutuan yang bernama Gereja, persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib.

Tuhan Yesus dalam doaNya sesaat sebelum Ia ditangkap, yang juga sering disebut sebagai Doa Imam Agung, dalam Yohanes 20 antara lain meminta kepada BapaNya (ay. 21) : “ . . . . supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”. Karena itulah Gereja adalah persekutuan. Gereja bukan hanya karena si X, Y, Z dst datang berkumpul, tetapi beribadah, berdoa, bekerja sendiri-sendiri, tetapi Gereja adalah pribadi X, Y, Z yang dengan penuh kesadaran rela untuk hidup dalam persekutuan, untuk tidak hidup sendiri-sendiri “supaya dunia percaya”

Gereja yang hidup oleh Paskah adalah Gereja yang bersekutu.

2. Paskah berarti : berkumpul di Galilea

Mengapa di Galilea? Apakah artinya Galilea.

Galilea lebih dikenal karena perbedaannya yang sangat kontras dengan Yerusalem. Yerusalem adalah daerah elit yang kaya di daerah pegunungan. Sedangkan Galilea adalah daerah perkampungan yang miskin di daerah pesisir.

Yerusalem adalah kota kudus Allah, sebaliknya Matius 5 : 15-16 mengatakan bahwa Galilea adalah “ . . tanah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan . . “. Jadi berkumpul di Galilea, mengisyaratkan bahwa setelah Paskah Yesus tidak membentuk sebuah persekutuan elit & eksklusif : yang kaya, yang makmur, yang saleh, yang alim, tetapi sebuah persekutuan yang hidup ditengah-tengah penderitaan sesamanya, persekutuan yang berpihak pada golongan lemah di dalam masyarakat, persekutuan yang berprihatin, solider dan selalu peka terhadap kebutuhan disekitarnya.

Tetapi sepanjang sejarahnya, Gereja sering tergoda, ia selalu punya kecenderungan untuk menjadi eksklusif : merasa lebih suci, lebih saleh, lebih selamat. Gedungnya, kegiatannya dan cara hidupnya tidak menunjukkan kepekaan dan solidaritasnya terhadap golongan lemah, tetapi justru berselera golongan menengah keatas. Bahkan sangat kasat mata, diantara jemaat sendiri keakraban hanya terjadi diantara yang “se-level” saja.

Orang ke gereja seringkali bukan untuk lebih menyatu dan peka terhadap kehidupan sekitarnya, tetapi untuk memuaskan selera pribadi, untuk mengejar kepentingan pribadi; yang pada gilirannya menjadi sumber konflik berkepanjangan dan merusak persekutuan itu sendiri.

Gereja yang hidup oleh Paskah, adalah Gereja yang berani hidup dengan kedua kaki dan sepenuh hati di Galilea, ditempat dimana ada penderitaan, keterbelakangan, kemelaratan.

3. Paskah berarti : pergi ke seluruh dunia.

Segera setelah murid-murid itu berkumpul di Galilea, Yesus membawa mereka ke sebuah bukit. Dan di sana Yesus mengutus mereka : Karena itu pergilah, jadikanlah segala bangsa itu muridKu ....”(Mat 28 : 19).

Murid-murid itu dikumpulkan, bukan hanya sekedar untuk reuni. Tetapi mereka berkumpul, untuk pergi. Yang membuat mereka berkumpul, adalah misi itu. Dan yang membuat mereka pergi, adalah juga misi itu.

Sebelum pergi, mereka berkumpul terlebih dahulu, karena misi itu bukan misi pribadi. Tetapi setelah berkumpul, bukan untuk bernikmat-nikmat dan menjadi betah serta kerasan tinggal di tempat itu. Mereka berkumpul, untuk pergi.

Abraham harus pergi, Musa harus pergi, Israel harus pergi. Dan kini Gereja juga harus pergi!  Kemana?  Ke seluruh dunia.

Keseluruh dunia berarti, ke manapun juga. Bukan hanya ke tempat yang kita senangi, bukan hanya kepada orang yang kita suka. Tetapi ke seluruh dunia. Ke mana saja, kepada siapa saja, karena injil dan misi itu adalah untuk seluruh dunia dan semua orang yang membutuhkan Kabar Baik, kabar keselamatan.

Gereja harus berkumpul dan bersekutu, itu benar, dan memang penting! Tetapi bukan sekedar menjadi betah dan terlena di sana, karena berkumpul dan bersekutu adalah justru untuk pergi.

Mungkin ada yang berpikir, lalu setiap kita harus pergi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bukan, bukan semata-mata seperti itu yang dimaksud, tetapi juga dimanapun kita beraktivitas, dalam lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja dan dimana saja kita perlu untuk terus menyatakan misi itu. Baik dengan perkataan, teristimewa dengan perbuatan kita. Agar dengan melihat kita, orang melihat Kristus di dalamnya. Beribadah bukan sekedar datang ke Gereja setiap hari Minggu atau ke Ibadah Keluarga setiap hari Rabu, tetapi lebih daripada itu.

Mungkin, karena suatu keadaan, kita harus berada di suatu tempat yang terasa asing sehingga terasa tidak nyaman, tapi mungkin ada maksud Tuhan untuk kita berada di sana, di lingkungan itu

Pergi, memang bukan suatu pekerjaan yang menyenangkan, membawa misi itu tidaklah selalu menyenangkan, ada hambatan, ada tantangan yang menghadang. Tetapi kitapun perlu meyakini apa yang dikatakan Tuhan Yesus sebelum Ia pergi naik ke sorga (Yoh. 14 : 27) : “Damai sejahtera Ku tinggalkan bagimu, Damai sejahteraKu Ku berikan kepadamu . . . . . . . . Janganlah gelisah dan gentar hatimu" (31). “Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini

Damai sejahtera itu tidak membuat kita tinggal, tetapi membuat kita bangun dan pergi (bersaksi).

Gereja yang hidup karena Paskah, adalah Gereja yang bangun dan pergi, Gereja yang bergerak dan berbuat. Gereja yang berbicara dan bekerja. Itulah hakekat Gereja itulah Panggilan dan Pengutusan Gereja, Gereja dipanggil utk diutus melalui Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian (Tri Darma Gereja). Oleh sebab itu, bangunlah, marilah kita pergi dari sini. A m i n.

Artikel Terbaru

MINGGU ADVENT

03.12.2012

PENJELASAN TENTANG SIMBOL IBADAH SESUAI DENGAN TAHUN GEREJA ADVENT artinya 'kedatangan'. Istilah in

Event Terbaru

KECERIAAN PERAYAAN PASKAH - 8 APRIL 2012

25.04.2012

PERAYAAN PASKAH 2012 - KAMPUNG AER