Renungan Minggu Ini

SENIN, 31 DESEMBER 2012 [SBU]

27.11.2012

MENUJU DUNIA BARU [Malam Akhir Tahun] Wahyu 21 : 9 – 27 Langit dan bumi yang ada sekarang ini akan

Mendobrak Eksklusivisme Beragama

14 August 2012, 14:13

Belajar Dari Peristiwa Penglihatan Kornelius-Petrus

Oleh : Pdt. Domidoyo M. Ratupenu

Agama, tepatnya ajaran agama, pada dasarnya hendak mengajarkan hal-hal yang baik bagi umat manusia. Namun, dalam kenyataan yang ada di sekitar kita malah justru sebaliknya. Masing-masing umat beragama merasa bahwa ajaran agamanyalah yang paling benar. Sampai di sini tidak menjadi masalah. Setiap orang harus meyakini bahwa ajaran agamanya paling benar. Sebab, jika tidak maka sebenarnya tidak ada yang bisa diharapkan dari agamanya. Dan, penganut agama akan kehilangan jati dirinya. Masalah timbul ketika bersamaan dengan menganggap agamanya paling benar, lalu merendahkan agama (orang) lain. Sikap seperti ini dapat kita lihat ketika umat beragama yang satu menghakimi dan bahkan menuding agama lain sebagai kafir, sesat. Oleh sebab itu, menurut mereka, perlu “diluruskan!”. Jika yang hendak diluruskan itu tidak mau mengikuti maka sah jika dihancurkan. Umat beragama semacam ini seakan sudah mengerti dan menggenggam kebenaran secara mutlak. Maka dari itu, siapapun yang tidak sama pemahamannya dengan mereka dianggap salah dan sesat. Sikap semacam ini disebut eksklusivisme. Eksklusivisme adalah suatu sikap yang merasa paling benar dari yang lain. Jika ada kebenaran selain kebenaran yang dihayati oleh mereka maka hal itu dianggap salah, menyimpang, sesat dan bahkan kafir! Pemahaman yang antipati terhadap agama (orang) yang berbeda sebenarnya juga sangat terasa dalam komunitas umat Kristen Yahudi terhadap orang-orang yang berbeda agama dan suku dengan mereka. Hal ini dapat kita lihat dalam diri Petrus yang masih menganggap bahwa dirinya, sukunya dan pemahaman keagamaannya adalah yang paling baik dan benar dari pada yang lain. Oleh sebab itu, dengan pemahaman Petrus yang seperti itu, tidaklah heran jika ia menganggap orang lain, baik lain suku maupun lain agama, sebagai najis dan kafir. Pemahaman Petrus seperti itu adalah representasi dari sukuisme dan pemahaman keagamaan umat Yahudi yang masih mewarnai keberagamaan umat Kristen yang berlatar belakang Yahudi saat itu. Pemahaman Petrus yang sangat eksklusif seperti di atas dapat kita lihat dalam cerita Kisah Rasul 10: 1-48. Ceritanya diawali dengan diterimanya doa Kornelius, seorang kepala Pasukan Romawi , oleh Allah. Karena doanya didengar Allah, maka malaikat menyuruhnya untuk mengundang Petrus orang Yahudi dan Kristen itu untuk hadir dalam rumah Kornelius, dengan maksud, agar Petrus menunjukkan arti dari penglihatan itu. Menariknya, dalam kisah ini juga dikatakan bahwa ketika orang suruhan Kornelius dalam perjalanan menemui Petrus ia pun mendapat penglihatan. Namun, isi penglihatan yang dialami Petrus berbeda dengan Kornelius. Penglihatan Petrus berisikan tentang ditampilkannya berbagai binatang yang secara agama dan budaya tidak boleh dimakan oleh Petrus. Menariknya lagi, justru binatang yang tidak boleh dimakan karena dianggap najis, haram menurut ajaran agama dan budaya malah disuruh oleh Allah untuk dimakan Petrus! Tentu saja Petrus menolak perintah Allah ini. Petrus menolak karena ia taat pada ajaran agama dan budayanya. Dengan ketaatan pada ajaran agama yang membabi buta ini Petrus malah berani menolak perintah Tuhan (Kis 10: 13-16) . Alkitab dengan gamblang mengatakan penolakan Petrus ini sampai tiga kali. Cerita di atas berlanjut sampai akhirnya Petrus kedatangan tamu suruhan Kornelius itu untuk mengundangnya datang ke rumah Kornelius untuk mendengar apa yang akan Petrus katakan tentang arti penglihatan yang dialami oleh Kornelius. Dalam cerita, kita melihat bagaimana Kornelius tersungkur ketika ia bertemu dengan Petrus dan Petrus melarang perbuatan yang dilakukan oleh Kornelius terhadap dirinya karena Petrus hanyalah manusia biasa . Petrus bukan Tuhan! Tidak lama kemudian Petrus mengatakan kepada orang-orang yang hadir di rumah Kornelius, bahwa tidak dibenarkan sama sekali jika orang Yahudi masuk ke rumah orang bukan Yahudi. Bagi orang Yahudi, orang-orang selain Yahudi – apalagi tidak beragama yudaisme – adalah orang kafir, najis, haram. Oleh sebab itu, orang lain itu dianggap bukan sepenuhnya manusia. Dan, orang Yahudi dilarang bergaul dengan mereka. Perkataan di atas, dilanjutkan oleh Petrus dengan mengatakan, “tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak boleh menyebut orang lain najis atau tidak tahir”. Perkataan Petrus ini tentu berbeda secara radikal dari cara berpikir Petrus yang lama, “sebelum berjumpa dengan orang lain secara dekat”, yang terbiasa mendiskriminasikan orang hanya karena berbeda agama dan budaya. Pernyataan Petrus ini seakan hendak mendobrak budaya dan pemahaman masa lalunya, yang tidak memberi tempat yang sama terhadap orang lain untuk diperlakukan setara, yang diprakarsai oleh Allah sendiri lewat perjumpaan antara Allah dengan Petrus dan perjumpaan Petrus dengan Kornelius. Dengan tegas, setelah Petrus mendengar peristiwa yang dialami oleh Kornelius yang disampaikan kepadanya, Petrus berkata, “sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya”. Firman dengan semangat seperti itulah yang kini harus diberitakan Petrus kepada seluruh orang Israel dan bangsa-bangsa, yaitu firman yang membawa damai sejahtera bagi semua orang karena Allah menerima dan memperlakukan semua orang setara. Firman yang harus disampaikan oleh Petrus seperti di atas adalah suatu ajaran yang sama sekali baru untuk ukuran masyarakat Yahudi saat itu. Bagaimana tidak? Umat Yahudi selama itu terus menerus diajar untuk menghayati bahwa Allah hanya mengasihi mereka! Tidak yang lain. Kini, lewat Petrus, Allah mau mendobrak ajaran dan pemahaman keagamaan Yahudi yang sangat eksklusif semacam itu. Allah mau mengajak Petrus dan manusia pada umumnya untuk menghargai semua orang sama seperti menghargai dirinya dan bahkan agamanya sendiri. Dalam menghargai orang lain dengan segala keberadaan mereka tidak berarti Petrus harus menyangkal eksistensinya, imannya kepada Allah. Namun, justru sekarang eksistensi Petrus diperkukuh ketika mengalami perjumpaan dengan orang lain yang berbeda . Keyahudian dan Kekristenan Petrus bukan saja diperuntukkan bagi umat Yahudi dan Kristen saja tetapi melalui perjumpaan dengan orang lain, agama dan budaya lain, keunikan bangsa Yahudi menjadi semakin dirasakan keberadaan dan manfaatnya oleh orang banyak dan bahkan semakin dibangun dan diperkaya oleh perjumpaannya dengan yang lain. Keyahudian yang terbuka semacam itu mengindikasikan terjadinya perubahan pemahaman keagamaan ke arah yang jauh lebih baik dari apa yang dihayati sebelumnya. Bahkan, keterbukaan Petrus mendapat simpatik banyak orang. Alkitab menceritakan bahwa Roh Kudus tercurah pada bangsa-bangsa, dan banyak orang dari bangsa-bangsa itu dibaptis. Dengan melihat kisah di atas, kita perlu memulai memperbaiki cara kita bergaul, memandang dan menerima orang lain. Apalagi dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural ini . Sikap eksklusif yang selalu merasa paling benar dan tidak memberi ruang untuk perjumpaan dengan orang lain rasanya tidaklah tepat. Jika sikap eksklusif menjadi pilihan hidup kita dalam beragama dan bergaul dengan orang lain maka hasilnya dapat kita bayangkan . Kita tidak akan pernah bisa bergaul dengan orang lain secara tulus dan jujur dan kehidupan yang terkotak-kotak menjadi kenyatan yang harus diterima. Perseteruan dan pengkafiran antar dan interumat beragama menjadi kenyataan yang lazim dan tanpa disadari lama kelamaan menjadi suatu kenyataan yang dianggap benar. Akan tetapi, jika sikap pluralis (pluralisme) sebagaimana ditunjukkan Petrus setelah ia berjumpa dengan Allah dan sesamanya yang lain yang akan kita kembangkan, maka saya yakin kehidupan bersama yang tulus dan jujur dapat terwujud. Bukan itu saja, kehidupan yang damai sejahtera dan masyarakat yang adil yang kita cita-citakan dalam masyarakat Indonesia dapat terwujud. Dan ini, menjadi tugas dan panggilan gereja yang harus disadari oleh semua pemimpin, pelayan, dan jemaat Tuhan. Wassalam.

Buku-buku Rujukan: – Alkitab – Budhy Munawarrahman, Islam dan Liberalisme. – Emanuel Gerrit Singgih, Reformasi dan Transformasi Pelayanan Gereja: Menyongsong Abad ke 21 – Irshad Manji, Beriman Tanpa Rasa Takut. – Nurcholish Madjid (dkk), Passing Over: Melintas Batas Agama

Sumber: http://www.gpib.org/artikel/mendobrak-eksklusivisme-beragama

Artikel Terbaru

MINGGU ADVENT

03.12.2012

PENJELASAN TENTANG SIMBOL IBADAH SESUAI DENGAN TAHUN GEREJA ADVENT artinya 'kedatangan'. Istilah in

Event Terbaru

KECERIAAN PERAYAAN PASKAH - 8 APRIL 2012

25.04.2012

PERAYAAN PASKAH 2012 - KAMPUNG AER